Kamis, 23 Juli 2020

KONSEP, PRINSIP, DAN SASARAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS


                                    DosenPengampu:                                 

Wita Antasari S.Pd., M.Pd





KONSEP, PRINSIP, DAN SASARAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS




Disusun Oleh:
Suriyana Safitr, S.Pd




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bidang pendidikan khususnya kegiatan peelajaran, berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik (guru atau dosen) untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah. Dengan melaksanakan tahapan PTK, guru dan dosen dapat menemukan solusi dari masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara kreatif, juga menyesuaikan konsep dan prinsip pada Penelitian Tindakan kelas (PTK). Jadi, PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi oleh guru atau dosen di lapangan. Dengan melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), guru dan dosen mempunyai peran ganda praktisi dan peneliti.
Masalah proses pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah dapat dicari solusi atau jalan keluar melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan dan pembelajaran, sehingga proses pembelajaran di kelas yang kreatif, inovatif, dan hasil belajar dapat diwujudkan secara ilmiah yaitu, rasional, sistematis, dan empiris. Pelaksanaan PTK dapat disosialisasikan  dalam dunia pendidikan sebagai budaya belajar (learning culture) di kalangan guru di Sekolah dan kalangan dosen di Perguruan Tinggi.
Kegiatan PTK dapat menjadikan guru dan dosen kreatif, inovatif, dalam proses pembelajaran di kelas, yang orientasinya meningkatkan mutu atau kualitas proses dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan guru atau dosen untuk meneliti kegiatan pembelajaran di kelas, dapat meningkatkan profesinya sebagai pendidik.
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1.    Bagaimanakah konsep dasar penelitian tindakan kelas?
2.    Apakah prinsip dasar penelitian tindakan kelas?
3.    Apa sajakah sasaran penelitian tindakan kelas?

C.       Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini disusun  dengan tujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan:
1.    Konsep dasar penelitian tindakan kelas.
2.    Prinsip dasar penelitian tindakan kelas.
3.    Sasaran penelitian tindakan kelas.

BAB II
PEMBAHASAN
A.      Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas
Secara etimologis, ada tiga istilah yang berhubungan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian adalah suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti yakni guru. Tindakan diarahkan untuk memperbaiki kinerja yang dilakukan guru. Ketiga, kelas menunjukkan pada tempat proses pembelajaran berlangsung. Ini berarti PTK dilakukan di dalam kelas yang tidak di setting untuk kepentingan penelitian secara khusus, akan tetapi PTK berlangsung dalam keadaan situasi dan kondisi yang real tanpa rekayasa.
        Dari penjelasan di atas maka PTK dapat diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.[1]
Beberapa pengertian penelitian tindakan kelas (PTK) yang dikutip Prendergast (2002) berdasarkan ke empat jenis kompetensi dasar guru. Lewin menyatakan, PTK merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain (kompetensi profesional). Sementara itu, Calhoun dan Glanz menjelaskan bahwa PTK merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung kinerja kreatif sekolah (kompetensi profesional).
Cole dan Knowles juga menegaskan bahwa PTK dapat mengarahkan para guru untuk melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan tujuan tidak hanya tentang program dan metode megajar, tetapi juga membantu para guru mengembangkan hubungan-hubungan personal (kompetensi kepribadian).
Pernyataan Konowles tersebut juga didukung oleh Noffke, yang menyatakan bahwa penelitian tindakan kelas dapat mendorong para guru melakukan refleksi terhadap praktik pembelajarannya untuk membangun pemahaman mendalam dan mengembangkan hubungan-hubungan personal dan sosial antarguru (kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial). Selain itu, Whitehead (1993) mengemukakan, penelitian tindakan kelas dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman tentang pedagogik dalam rangka memperbaiki pembelajarannya (komptensi pedagogik). Selanjutnya, Prendergast (2002) sendiri menyatakan, penelitian tindakan kelas merupakan wahana bagi guru untuk melakukan refleksi dan tindakan secara sistematis dalam pengajarannya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar peserta didik.
Sukanti (2008), mengemukakan penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang dijumpai guru dalam kegiatan pembelajaran.[2] Penelitian Tindakan Kelas juga merupakan kegiatan penelitian yang berkonteks kelas yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang dihadapi guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencoba hal-hal baru dalam pembelajaran demi meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran. Penelitian tindakan kelas dapat dilakukan secara individu maupun kolaboratif (Ani W, 2008).[3]
Dari beberapa pengertian di atas,dapat diperoleh gambaran yang jelas bahwa PTK dapat membantu meningkatkan ke empat jenis kompetensi guru. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi para pembuat kebijakan (pemerintah) untuk tidak mengembangkan program PTK bagi praktisi pendidikan (guru dan dosen) dan bagi praktisi itu sendiri menyadari bahwa dana proyek PTK sangat terbatas, sehingga mereka harus berkompetensi secara sehat dan ketat. Jika usulan yang diajukan tidak disetujui maka guru harus dapat melakukan secara mandiri.[4]
Penelitian tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research), dan penelitian tindakan ini bagian dari penelitian tindakan pada umumnya. Jadi, sebelum membahas penelitian tindakan perlu didefinisikan terlebih dahulu tentang penelitian secara umum.
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi ilmiah dan atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidakbeneran hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori dan atau proses gejala sosial. Penelitian juga dapat diartikan kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk mendapatkan data atau informasi yang bermanfaat untuk selanjutnya data tersebut dianalisis untuk dicari kesimpulannya. Penelitian ilmiah pada dasarnya adalah usaha mencari kebenaran perolehan makna tentang sesuatu yang dikaji. Memahami makna berarti memahami hakikat suatu keberadaan, fakta dan kejadian-kejadian sebagai suatu kualitas.[5]
Menurut David Hopkins pengertian PTK adalah “a form of self-reflective inquiry undertaken by practicipants in a social (in-cluding educations) situation in order to improve the rationality andjustice of: (a) ther own social or educational practices; (b) ther under-standing of these practices; and (c) the situations on which practices are carried out”. Dari definisi tersebut dalam konteks kependidikan, PTK mengandung perngertian bahwa sebuah bentuk kegiatan refleksi diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang: (a) praktik-praktik kependidikan mereka; (b) pemahaman mereka tentang praktik-praktik tersebut; dan (c) situasi dimana praktik-praktik tersebut dilaksanakan. Sedangkan menurut Rapoport (1970) dalam Hopkins (1993)  mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.[6]

B.       Prinsip Dasar Penelitian Tindakan Kelas
Agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan prinsip yaitu apa yang harus ada tanpa mengganggu tugas utama dari seorang guru. Prinsip ini diharapkan agar PTK dapat dilaksanakan dengan baik. Artinya dalam pelaksanaannya PTK tetap mempunyai pedoman-pedoman dasar yang tidak boleh untuk dilanggar oleh seorang guru.
Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi PTK. Menurut Hopkins (1993) prinsip yang dimaksud antara lain:
1.    Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas.
2.    Meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data.
3.    Kegiatan peneliti yang merupakan bagian integral dari pembelajaran harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah.
4.    Masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil merisaukan tanggung jawab profesional dan komitmen terhadap diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesngguhnya.
5.    Konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan.
6.    Cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar kelas.[7]
Sukidin, Basrowi dan Suranto (dalam Tukiran taniredja dkk, 2013), menguraikan bahwa PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan enam prinsip, antara lain:
1.    Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah mengajar siswa sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
2.    Metode pengumpulan data yang digunakan tidak menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses pembelajaran.
3.    Metodologi yang digunakan harus cukup reliable sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi kelasnya, dan dapat memperoleh data yang dapat digunakan untuk “menjawab” hipotesis yang dikemukakannya.
4.    Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukannya. Bertolak dari tanggung jawab profesional guru sendiri memiliki komitmen terhadap pengatasannya.
5.    Guru harusbersikap konsisten menaruh kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6.    Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.[8]

Selain itu, Anas Salahudin (2015) mengemukakan beberapa prinsip yang diterapkan dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
1.         Tidak mengganggu pekerjaan guru, yaitu mengajar.
2.         Metode pengumpulan data tidak menuntut metode yang berlebihan.
3.         Metodologi yang digunakan harus reliabel, sehingga hipotesis yang dirumuskan cukup meyakinkan.
4.         Masalah yang diteliti adalah masalah pembelajaran di kelas yang cukup meresahkan guru dan guru berkomitmen mencari solusinya.
5.         Guru harus konsisten terhadap etika pekerjaan dan mengindahkan tatakrama organisasi. Masalah yang diteliti sebaiknya diketahui pimpinan sekolah dan rekan sejawat, sehingga hasilnya cepat tersosialisasikan.
6.         Masalah tidak hanya fokus pada konteks kelas, tetapi juga dalam perspektif misi sekolah secara keseluruhan.
7.         Permasalahan bersifat praktis yang terjadi di dalam kelas.
8.         Adanya kolaborasi.
9.         Ada upaya perbaikan atau peningkatan.
10.     Efektivitas metode, teknik, dan proses pembelajaran.
11.     Tidak untuk digeneralisasi.
12.     Tidak memerlukan populasi atau sampel.
13.     Tidak mengenal kelompok eksperimen.
14.     Proses penelitian melalui siklus.[9]

C.       Sasaran Penelitian Tindakan Kelas
Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam atau tidak bergerak. Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran atau objek PTK adalah sebagai berikut:
1.    Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas, lapangan, laboratorium, maupun ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah dengan serius, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.
2.    Guru, dapat dicermati ketika seorang guru sedang melakukan pembelajaran atau membimbing siswa, atau seorang guru sedang berkunjung kerumah siswa.
3.    Materi pelajaran, dapat dicermati dari materi yang tertulis dalam RPP, terutama pada materi saat guru menyajikannya pada siswa dalam proses pembelajaran.
4.    Peralatan atau sarana pendidikan, meliputi peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di kelas di laboratorium
5.    Hasil pembelajaran, dapat ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran.
6.    Lingkungan, dapat dicermati baik dari segi lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa di rumahnya.
7.    Pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain.[10]

Sejalan dengan pendapat dari Arikunto, Aqib (2007: 21-22) menyebutkan beberapa sasaran atau objek Penelitian Tindakan Kelas, anatara lain:
1.    Siswa, yang menajdi sasaran yaitu, (a) ketika ia sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas, di lapangan, di laboratorium, dan lain-lain. (b) ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah. (c) ketika sedang mengikuti kerja bakti di luar kelas.
2.    Guru, yang menajdi sasaran atau objek yaitu, (a) sedang mengajar di kelas. (b) sedang membimbing siswa yang sedang berdarmawisata. (c) sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
3.    Materi pelajaran, yaitu, (a) ketika sedang mengajar. (b) bahan yang ditugaskan kepada siswa, dan sebagainya.
4.    Peralatan atau sarana pendidikan, yaitu ketika guru mengajar dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar yang dapat diamati: (a) guru, (b) siswa, dan (c) keduanya yaitu guru dan siswa.
5.    Hasil pembelajaran, yaitu ditinjau dari tiga ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran, baik susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk yang harus ditingkatkan, hal ini pasti terkait dengan tindakan unsur lain.
6.    Lingkungan, yaitu lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkupi siswa di rumahnya. Dalam penelitian Tindakan, bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi menjadi lebih kondusif.
7.    Pengelolaan, yaitu yang jelas-jelas merupakan gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk kegiatan.[11]



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Secara etimologis, ada tiga istilah yang berhubungan dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian adalah suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis, empiris, dan terkontrol. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai perlakuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti yakni guru. Tindakan diarahkan untuk memperbaiki kinerja yang dilakukan guru. Ketiga, kelas menunjukkan pada tempat proses pembelajaran berlangsung. Ini berarti PTK dilakukan di dalam kelas yang tidak di setting untuk kepentingan penelitian secara khusus, akan tetapi PTK berlangsung dalam keadaan situasi dan kondisi yang real tanpa rekayasa.
Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi Penelitian Tindakan kelas (PTK), yaitu: Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas, meneliti merupakan bagian integral dari pembelajaran yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan data, kegiatan peneliti yang merupakan bagian integral dari pembelajaran harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada alur dan kaidah ilmiah, masalah yang ditangani adalah masalah-masalah pembelajaran yang riil merisaukan tanggung jawab profesional dan komitmen terhadap diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam konteks pembelajaran yang sesungguhnya, konsistensi sikap dan kepedulian dalam memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan, dan cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar kelas.
Sedangkan sasaran Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu sesuatu yang aktif dan dapat dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam atau tidak bergerak seperti guru, siswa, materi pelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, hasil pembelajaran, lingkungan, dan pengelolaan.

B.       Saran
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca serta demi perbaikan makalah selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ani Widayati. 2008. Penelitian Tindakan KelasI, Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008.
Arifin, Zainal. 2011.Penelitian Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Aqib, Zainal. 2007. Penelitian Tindakan kelas. Bandung: Rama Widya.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Kunandar. 2016.Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru.Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Salahudin. Anas. 2015.Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Pustaka Setia.
Sanjaya, Wina. 2009.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta: Kencana Prenadamedia Group.
Sukanti. 2008.Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia.  Vol. VI. No. 1. Tahun 2008.
Taniredja, Tukiran dkk. 2013. Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Prastis, dan Mudah. Bandung: Alfabeta.
           


[1] Wina Sanjaya, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Kencana Prenadamedia Group, 2009), hlm 25-26
[2]Sukanti, Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia.  Vol. VI. No. 1. Tahun 2008, hlm. 13
[3]Ani Widayati, Penelitian Tindakan KelasI, Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008, hlm. 11
[4] Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm 96
[5]Kunandar, Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), hlm 42
[6]Ibid., hlm 45-46
[7]Tukiran Taniredja Dkk, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Prastis, dan Mudah, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm 17
[8]Ibid., hlm 18
[9]Anas Salahudin, Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Pustaka Setia, 2015), hlm 33
[10]Suharsimi Arikunto dkk, Penelitian Tindakan Kelas, (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), hlm 25.
[11]Zainal Aqib, Penelitian Tindakan kelas, (Bandung: Rama Widya, 2007), hlm 21-22.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

SDN CONTOH PENILAIAN TENGAH SEMESTER kelas 6 TAHUN PELAJARAN 2020/2021

  SDN CONTOH Nama              : PENILAIAN TENGAH SEMESTER TAHUN PELAJARAN 2020/2021 ...