Wita Antasari S.Pd., M.Pd
KONSEP, PRINSIP, DAN SASARAN
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
Disusun Oleh:
Suriyana Safitr, S.Pd
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bidang pendidikan
khususnya kegiatan peelajaran, berkembang sebagai suatu penelitian terapan. PTK
sangat bermanfaat bagi tenaga pendidik (guru atau dosen) untuk memperbaiki dan
meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah.
Dengan melaksanakan tahapan PTK, guru dan dosen dapat menemukan solusi dari
masalah yang timbul di kelasnya sendiri, bukan kelas orang lain, dengan
menerapkan berbagai ragam teori dan teknik pembelajaran yang relevan secara
kreatif, juga menyesuaikan konsep dan prinsip pada Penelitian Tindakan kelas
(PTK). Jadi, PTK merupakan suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah
aktual yang dihadapi oleh guru atau dosen di lapangan. Dengan melaksanakan
Penelitian Tindakan Kelas (PTK), guru dan dosen mempunyai peran ganda praktisi
dan peneliti.
Masalah proses pembelajaran di kelas atau di ruang kuliah
dapat dicari solusi atau jalan keluar melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan dan
pembelajaran, sehingga proses pembelajaran di kelas yang kreatif, inovatif, dan
hasil belajar dapat diwujudkan secara ilmiah yaitu, rasional, sistematis, dan
empiris. Pelaksanaan PTK dapat disosialisasikan
dalam dunia pendidikan sebagai budaya belajar (learning culture)
di kalangan guru di Sekolah dan kalangan dosen di Perguruan Tinggi.
Kegiatan PTK dapat menjadikan guru dan dosen kreatif,
inovatif, dalam proses pembelajaran di kelas, yang orientasinya meningkatkan
mutu atau kualitas proses dan hasil pembelajaran. Oleh karena itu, kemampuan
guru atau dosen untuk meneliti kegiatan pembelajaran di kelas, dapat
meningkatkan profesinya sebagai pendidik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan
rumusan masalah yaitu sebagai berikut:
1. Bagaimanakah konsep dasar penelitian tindakan
kelas?
2. Apakah prinsip dasar penelitian tindakan
kelas?
3. Apa sajakah sasaran penelitian tindakan kelas?
C. Tujuan
Sejalan dengan rumusan masalah di atas, makalah ini
disusun dengan tujuan untuk mengetahui
dan mendeskripsikan:
1. Konsep dasar penelitian tindakan kelas.
2. Prinsip dasar penelitian tindakan kelas.
3. Sasaran penelitian tindakan kelas.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas
Secara
etimologis, ada tiga istilah yang berhubungan dengan Penelitian
Tindakan
Kelas
(PTK)
yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian
adalah suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis,
empiris, dan terkontrol. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai
perlakuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti yakni guru. Tindakan diarahkan
untuk memperbaiki kinerja yang dilakukan guru. Ketiga, kelas menunjukkan
pada tempat proses pembelajaran berlangsung. Ini berarti PTK dilakukan di dalam
kelas yang tidak di setting untuk kepentingan penelitian secara khusus, akan
tetapi PTK berlangsung dalam keadaan situasi dan kondisi yang real tanpa
rekayasa.
Dari penjelasan di atas maka PTK dapat
diartikan sebagai proses pengkajian masalah pembelajaran di dalam kelas melalui
refleksi diri dalam upaya untuk memecahkan
masalah tersebut dengan cara melakukan berbagai tindakan yang terencana dalam
situasi nyata serta menganalisis setiap pengaruh dari perlakuan tersebut.[1]
Beberapa
pengertian penelitian tindakan kelas (PTK) yang dikutip Prendergast (2002)
berdasarkan ke empat jenis kompetensi dasar guru. Lewin menyatakan, PTK
merupakan cara guru untuk mengorganisasikan pembelajaran berdasarkan
pengalamannya sendiri atau pengalamannya berkolaborasi dengan guru lain
(kompetensi profesional). Sementara itu, Calhoun dan Glanz menjelaskan bahwa
PTK merupakan suatu metode untuk memberdayakan guru yang mampu mendukung
kinerja kreatif sekolah (kompetensi profesional).
Cole
dan Knowles juga menegaskan bahwa PTK dapat mengarahkan para guru untuk
melakukan kolaborasi, refleksi, dan bertanya satu dengan yang lain dengan
tujuan tidak hanya tentang program dan metode megajar, tetapi juga membantu
para guru mengembangkan hubungan-hubungan personal (kompetensi kepribadian).
Pernyataan
Konowles tersebut juga didukung oleh Noffke, yang menyatakan bahwa penelitian
tindakan kelas dapat mendorong para guru melakukan refleksi terhadap praktik
pembelajarannya untuk membangun pemahaman mendalam dan mengembangkan
hubungan-hubungan personal dan sosial antarguru (kompetensi kepribadian dan
kompetensi sosial). Selain itu, Whitehead (1993) mengemukakan, penelitian
tindakan kelas dapat memfasilitasi guru untuk mengembangkan pemahaman tentang
pedagogik dalam rangka memperbaiki pembelajarannya (komptensi pedagogik).
Selanjutnya, Prendergast (2002) sendiri menyatakan, penelitian tindakan kelas
merupakan wahana bagi guru untuk melakukan refleksi dan tindakan secara
sistematis dalam pengajarannya untuk memperbaiki proses dan hasil belajar peserta
didik.
Sukanti (2008), mengemukakan penelitian tindakan kelas
adalah penelitian yang dilaksanakan berdasarkan permasalahan yang dijumpai guru
dalam kegiatan pembelajaran.[2]
Penelitian Tindakan Kelas juga merupakan kegiatan penelitian yang berkonteks
kelas yang dilaksanakan untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran yang
dihadapi guru, memperbaiki mutu dan hasil pembelajaran dan mencoba hal-hal baru
dalam pembelajaran demi meningkatkan mutu dan hasil pembelajaran. Penelitian
tindakan kelas dapat dilakukan secara individu maupun kolaboratif (Ani W,
2008).[3]
Dari
beberapa pengertian di atas,dapat diperoleh gambaran yang jelas bahwa PTK dapat
membantu meningkatkan ke empat jenis kompetensi guru. Dengan demikian, tidak
ada alasan bagi para pembuat kebijakan (pemerintah) untuk tidak mengembangkan
program PTK bagi praktisi pendidikan (guru dan dosen) dan bagi praktisi itu
sendiri menyadari bahwa dana proyek PTK sangat terbatas, sehingga mereka harus
berkompetensi secara sehat dan ketat. Jika usulan yang diajukan tidak disetujui
maka guru harus dapat melakukan secara mandiri.[4]
Penelitian
tindakan kelas merupakan bagian dari penelitian tindakan (action research),
dan penelitian tindakan ini bagian dari penelitian tindakan pada umumnya. Jadi,
sebelum membahas penelitian tindakan perlu didefinisikan terlebih dahulu
tentang penelitian secara umum.
Penelitian adalah suatu kegiatan penyelidikan yang
dilakukan menurut metode ilmiah yang sistematis untuk menemukan informasi
ilmiah dan atau teknologi baru, membuktikan kebenaran atau ketidakbeneran
hipotesis sehingga dapat dirumuskan teori dan atau proses gejala sosial. Penelitian juga dapat diartikan kegiatan mencermati suatu objek
dengan menggunakan aturan metodologi tertentu untuk mendapatkan data atau
informasi yang bermanfaat untuk selanjutnya data tersebut dianalisis untuk
dicari kesimpulannya. Penelitian ilmiah pada dasarnya adalah usaha mencari
kebenaran perolehan makna tentang sesuatu yang dikaji. Memahami makna berarti
memahami hakikat suatu keberadaan, fakta dan kejadian-kejadian sebagai suatu
kualitas.[5]
Menurut
David Hopkins pengertian PTK adalah “a form of self-reflective inquiry
undertaken by practicipants in a social (in-cluding educations) situation in
order to improve the rationality andjustice of: (a) ther own social or
educational practices; (b) ther under-standing of these practices; and (c) the
situations on which practices are carried out”. Dari definisi tersebut
dalam konteks kependidikan, PTK mengandung perngertian bahwa sebuah bentuk
kegiatan refleksi diri yang dilakukan oleh para pelaku pendidikan dalam suatu
situasi kependidikan untuk memperbaiki rasionalitas dan keadilan tentang: (a)
praktik-praktik kependidikan mereka; (b) pemahaman mereka tentang
praktik-praktik tersebut; dan (c) situasi dimana praktik-praktik tersebut
dilaksanakan. Sedangkan menurut Rapoport (1970) dalam Hopkins (1993) mendefinisikan penelitian tindakan kelas adalah
penelitian untuk membantu seseorang dalam mengatasi secara praktis persoalan
yang dihadapi dalam situasi darurat dan membantu pencapaian tujuan ilmu sosial
dengan kerja sama dalam kerangka etika yang disepakati bersama.[6]
B. Prinsip Dasar Penelitian Tindakan Kelas
Agar pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik,
dibutuhkan prinsip yaitu apa yang harus ada tanpa mengganggu tugas utama dari
seorang guru. Prinsip ini diharapkan agar PTK dapat dilaksanakan dengan baik.
Artinya dalam pelaksanaannya PTK tetap mempunyai pedoman-pedoman dasar yang tidak
boleh untuk dilanggar oleh seorang guru.
Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi PTK. Menurut
Hopkins (1993) prinsip yang dimaksud antara lain:
1. Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang
utama adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas.
2. Meneliti merupakan bagian integral dari
pembelajaran yang tidak menuntut kekhususan waktu maupun metode pengumpulan
data.
3. Kegiatan peneliti yang merupakan bagian
integral dari pembelajaran harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada
alur dan kaidah ilmiah.
4. Masalah yang ditangani adalah masalah-masalah
pembelajaran yang riil merisaukan tanggung jawab profesional dan komitmen
terhadap diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam
konteks pembelajaran yang sesngguhnya.
5. Konsistensi sikap dan kepedulian dalam
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan.
6. Cakupan permasalahan penelitian tindakan tidak
seharusnya dibatasi pada masalah pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas
pada tataran di luar kelas.[7]
Sukidin, Basrowi dan Suranto (dalam Tukiran taniredja dkk,
2013), menguraikan bahwa PTK dapat berjalan dengan baik apabila dalam
perencanaan dan pelaksanaannya menggunakan enam prinsip, antara lain:
1. Tugas pertama dan utama guru di sekolah adalah
mengajar siswa sehingga apapun metode PTK yang akan diterapkan tidak akan
mengganggu komitmennya sebagai pengajar.
2. Metode pengumpulan data yang digunakan tidak
menuntut waktu yang berlebihan dari guru sehingga berpeluang mengganggu proses
pembelajaran.
3. Metodologi yang digunakan harus cukup reliable
sehingga memungkinkan guru mengidentifikasi serta merumuskan hipotesis secara
cukup meyakinkan, mengembangkan strategi yang dapat diterapkan pada situasi
kelasnya, dan dapat memperoleh data yang dapat digunakan untuk “menjawab”
hipotesis yang dikemukakannya.
4. Masalah penelitian yang diusahakan oleh guru
seharusnya merupakan masalah yang cukup merisaukannya. Bertolak dari tanggung
jawab profesional guru sendiri memiliki komitmen terhadap pengatasannya.
5. Guru harusbersikap konsisten menaruh
kepedulian tinggi terhadap prosedur etika yang berkaitan dengan pekerjaannya.
6. Kelas merupakan cakupan tanggung jawab seorang
guru, namun dalam pelaksanaan PTK sejauh mungkin digunakan classroom
exceeding perspective, dalam arti permasalahan tidak dilihat terbatas dalam
konteks kelas atau mata pelajaran tertentu, melainkan dalam perspektif misi
sekolah secara keseluruhan.[8]
Selain itu, Anas Salahudin (2015) mengemukakan beberapa
prinsip yang diterapkan dalam penelitian tindakan kelas adalah sebagai berikut:
1.
Tidak mengganggu pekerjaan guru, yaitu mengajar.
2.
Metode pengumpulan data tidak menuntut metode yang berlebihan.
3.
Metodologi yang digunakan harus reliabel, sehingga hipotesis yang
dirumuskan cukup meyakinkan.
4.
Masalah yang diteliti adalah masalah pembelajaran di kelas yang cukup
meresahkan guru dan guru berkomitmen mencari solusinya.
5.
Guru harus konsisten terhadap etika pekerjaan dan mengindahkan tatakrama
organisasi. Masalah yang diteliti sebaiknya diketahui pimpinan sekolah dan rekan
sejawat, sehingga hasilnya cepat tersosialisasikan.
6.
Masalah tidak hanya fokus pada konteks kelas, tetapi juga dalam perspektif
misi sekolah secara keseluruhan.
7.
Permasalahan bersifat praktis yang terjadi di dalam kelas.
8.
Adanya kolaborasi.
9.
Ada upaya perbaikan atau peningkatan.
10. Efektivitas metode, teknik, dan proses
pembelajaran.
11. Tidak untuk digeneralisasi.
12. Tidak memerlukan populasi atau sampel.
13. Tidak mengenal kelompok eksperimen.
14. Proses penelitian melalui siklus.[9]
C. Sasaran Penelitian Tindakan Kelas
Objek PTK harus merupakan sesuatu yang aktif dan dapat
dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam atau tidak bergerak.
Unsur-unsur yang dapat dijadikan sasaran atau objek PTK adalah sebagai berikut:
1. Siswa, dapat dicermati objeknya ketika siswa
yang bersangkutan sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas,
lapangan, laboratorium, maupun ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan rumah
dengan serius, atau ketika mereka sedang mengikuti kerja bakti di luar sekolah.
2. Guru, dapat dicermati ketika seorang guru
sedang melakukan pembelajaran atau membimbing siswa, atau seorang guru sedang
berkunjung kerumah siswa.
3. Materi pelajaran, dapat dicermati dari materi
yang tertulis dalam RPP, terutama pada materi saat guru menyajikannya pada
siswa dalam proses pembelajaran.
4. Peralatan atau sarana pendidikan, meliputi
peralatan, baik yang dimiliki oleh siswa secara perseorangan, peralatan yang
disediakan oleh sekolah, ataupun peralatan yang disediakan dan digunakan di
kelas di laboratorium
5. Hasil pembelajaran, dapat ditinjau dari tiga
ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran.
6. Lingkungan, dapat dicermati baik dari segi
lingkungan siswa di kelas, sekolah, maupun yang melingkungi siswa di rumahnya.
7. Pengelolaan, hal yang termasuk dalam kegiatan
pengelolaan misalnya cara dan waktu mengelompokkan siswa ketika guru memberikan
tugas, pengaturan jadwal, pengaturan tempat duduk siswa, penempatan papan
tulis, penataan peralatan milik siswa, dan lain-lain.[10]
Sejalan dengan pendapat dari Arikunto, Aqib (2007: 21-22)
menyebutkan beberapa sasaran atau objek Penelitian Tindakan Kelas, anatara
lain:
1. Siswa, yang menajdi sasaran yaitu, (a) ketika
ia sedang asyik mengikuti proses pembelajaran di kelas, di lapangan, di
laboratorium, dan lain-lain. (b) ketika sedang asyik mengerjakan pekerjaan
rumah. (c) ketika sedang mengikuti kerja bakti di luar kelas.
2. Guru, yang menajdi sasaran atau objek yaitu,
(a) sedang mengajar di kelas. (b) sedang membimbing siswa yang sedang
berdarmawisata. (c) sedang mengadakan kunjungan ke rumah siswa.
3. Materi pelajaran, yaitu, (a) ketika sedang
mengajar. (b) bahan yang ditugaskan kepada siswa, dan sebagainya.
4. Peralatan atau sarana pendidikan, yaitu ketika
guru mengajar dengan tujuan meningkatkan mutu hasil belajar yang dapat diamati:
(a) guru, (b) siswa, dan (c) keduanya yaitu guru dan siswa.
5. Hasil pembelajaran, yaitu ditinjau dari tiga
ranah yang dijadikan titik tujuan yang harus dicapai melalui pembelajaran, baik
susunan maupun tingkat pencapaian. Oleh karena hasil belajar merupakan produk
yang harus ditingkatkan, hal ini pasti terkait dengan tindakan unsur lain.
6. Lingkungan, yaitu lingkungan siswa di kelas,
sekolah, maupun yang melingkupi siswa di rumahnya. Dalam penelitian Tindakan,
bentuk perlakuan atau tindakan yang dilakukan adalah mengubah kondisi menjadi
lebih kondusif.
7. Pengelolaan, yaitu yang jelas-jelas merupakan
gerak kegiatan sehingga mudah diatur dan direkayasa dalam bentuk kegiatan.[11]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Secara
etimologis, ada tiga istilah yang berhubungan dengan Penelitian
Tindakan
Kelas
(PTK)
yakni penelitian, tindakan, dan kelas. Pertama, penelitian
adalah suatu proses pemecahan masalah yang dilakukan secara sistematis,
empiris, dan terkontrol. Kedua, tindakan dapat diartikan sebagai
perlakuan tertentu yang dilakukan oleh peneliti yakni guru. Tindakan diarahkan
untuk memperbaiki kinerja yang dilakukan guru. Ketiga, kelas menunjukkan
pada tempat proses pembelajaran berlangsung. Ini berarti PTK dilakukan di dalam
kelas yang tidak di setting untuk kepentingan penelitian secara khusus, akan
tetapi PTK berlangsung dalam keadaan situasi dan kondisi yang real tanpa
rekayasa.
Ada beberapa prinsip dasar yang melandasi Penelitian
Tindakan kelas (PTK), yaitu: Tugas pendidik dan tenaga kependidikan yang utama
adalah menyelenggarakan pembelajaran yang baik dan berkualitas, meneliti
merupakan bagian integral dari pembelajaran yang tidak menuntut kekhususan
waktu maupun metode pengumpulan data, kegiatan peneliti yang merupakan bagian
integral dari pembelajaran harus diselenggarakan dengan tetap bersandar pada
alur dan kaidah ilmiah, masalah yang ditangani adalah masalah-masalah
pembelajaran yang riil merisaukan tanggung jawab profesional dan komitmen
terhadap diagnosis masalah bersandar pada kejadian nyata yang berlangsung dalam
konteks pembelajaran yang sesungguhnya, konsistensi sikap dan kepedulian dalam
memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran sangat diperlukan, dan cakupan
permasalahan penelitian tindakan tidak seharusnya dibatasi pada masalah
pembelajaran di kelas, tetapi dapat diperluas pada tataran di luar kelas.
Sedangkan sasaran Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu sesuatu
yang aktif dan dapat dikenai aktifitas, bukan objek yang sedang diam atau tidak
bergerak seperti guru, siswa, materi pelajaran, peralatan atau sarana
pendidikan, hasil pembelajaran, lingkungan, dan pengelolaan.
B. Saran
Dalam
penulisan makalah ini penulis merasa masih jauh dari kata sempurna, oleh karena
itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar dapat bermanfaat
bagi penulis dan pembaca serta demi perbaikan makalah selanjutnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ani Widayati. 2008. Penelitian Tindakan
KelasI, Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008.
Arifin, Zainal. 2011.Penelitian
Pendidikan.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Aqib, Zainal. 2007. Penelitian Tindakan kelas.
Bandung: Rama Widya.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian
Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Kunandar. 2016.Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru.Jakarta:
Raja
Grafindo Persada.
Salahudin. Anas. 2015.Penelitian Tindakan Kelas. Bandung:
Pustaka Setia.
Sanjaya, Wina. 2009.Penelitian Tindakan Kelas.Jakarta:
Kencana Prenadamedia Group.
Sukanti. 2008.Meningkatkan Kompetensi Guru
Melalui Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas. Jurnal Pendidikan Akuntansi
Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008.
Taniredja, Tukiran dkk. 2013. Penelitian Tindakan
Kelas Untuk Pengembangan Profesi Guru Praktik, Prastis, dan Mudah. Bandung:
Alfabeta.
[2]Sukanti, Meningkatkan Kompetensi Guru Melalui Pelaksanaan Penelitian
Tindakan Kelas. Jurnal Pendidikan Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008, hlm. 13
[3]Ani Widayati, Penelitian Tindakan KelasI, Jurnal Pendidikan
Akuntansi Indonesia. Vol. VI. No. 1. Tahun 2008, hlm. 11
[5]Kunandar,
Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2016), hlm 42
[7]Tukiran Taniredja Dkk, Penelitian Tindakan Kelas Untuk Pengembangan
Profesi Guru Praktik, Prastis, dan Mudah, (Bandung: Alfabeta, 2013), hlm 17
[9]Anas Salahudin, Penelitian Tindakan Kelas, (Bandung: Pustaka Setia,
2015), hlm 33
[11]Zainal Aqib, Penelitian Tindakan kelas, (Bandung: Rama Widya, 2007),
hlm 21-22.